EcologyNKK Lab Report

Preliminary Research Survey to Central Sulawesi Province, Indonesia

Ima Yudin Rayaningtyas

I am a master programfs student in the Graduate School for International Development and Cooperation, Hiroshima University under Prof. Nobukazu Nakagoshi supervision. Since September 2010, I have joined the Wise Use Biomass (WUBR) Research Group, Division of Development Technology. Relating to my research topic, I am studying gReducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) Programme in Indonesiah.

What is REDD+ and why I chose it as my research topic?
United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) established an international mechanism using market or financial incentives in order to reduce CO2 emissions from deforestation and forest degradation which is called REDD+. The (+) relates to conservation, sustainable forest management and enhancing carbon stock. Climate change has become the international cause of the moment, approximately 15-20 percent of the global greenhouse gas (GHG) emissions come from deforestation and forest degradation. Furthermore deforestation, land degradation, inappropriate land uses, and land conversion account for most of Indonesia's emissions. Therefore REDD+ has become an eminent priority for Indonesia and I intent to study REDD+ program in Indonesia.

Research activity
One of my research activities is a preliminary survey at the potential research site in Palu, Central Sulawesi which was conducted from March 22nd ? 24th 2011. Central Sulawesi Province has been determined as a project site of UNREDD Programme Indonesia since October 2010. First, I asked the National Project Director (NPD) and National Project Manager (NPM) of UNREDD Programme Indonesia permission to carry out research in their project site. They mentioned that the United Nations Environment Program World Conservation Monitoring Centre (UNEP WCMC) team and UNREDD Regional Coordinator would come to Indonesia and also visit Palu, and they allowed me to join the team.
The team consisted of the following institutions: UNEP WCMC (Dr. Barney Dickson and Ms. Cordula Epple), UNREDD Programme Regional Coordinator in Asia Pacific (Mr. Tim Boyle), UNREDD Programme Indonesia (Dr. Hermawan Indrabudi and Dr. Machfud), Ministry of Forestry (Ms. Tri Meinartin, Mr. Hendra Permana, Ms. Puri, Mrs. Rita) and I.
We departed for Palu on Tuesday, March 22nd, 2011 at 11 am by plane and arrived at around 4 pm. UNREDD Regional Facilitator picked up and delivered us to the hotel. After we took a rest for a while they invited us for dinner and during dinner we had small discussion on our activities in Palu.

Welcoming dinner/Makan malam

On Wednesday, March 23rd, 2011, we paid a courtesy call to the Head of Forestry Service, Central Sulawesi Province to convey our mission objectives. Then we had a meeting with UNREDD working group which consisted of around 15 people from local governments, academics, local people representatives, and the local Non-governmental Organization (NGO). After each participant was introduced, Dr. Dickson presented UNEP WCMC mission and mentioned that UNEP will focus on communication program (output 1.3) and formulate a toolkit (output 2.4). There were some questions related to the toolkit and Dr. Dickson and Mr. Boyle explained that this toolkit which aims to maximize potential carbon benefits and incorporate co-benefits, such as biodiversity conservation and poverty alleviation under Millennium Development Goal (MDG) as stated in the UNREDD document. They also emphasized that in order to achieve this outputs, all stakeholder participation is needed while UNEP WCMC will only act as facilitator.? At around 2 pm we went to Tadulako University and had small discussion with rector and lecturer regarding the general information of Tadulako University and discussed future cooperation possibilities to help the UNREDD Programme Indonesia project succeed.

Courtesy call to the Head of Forestry Service, Central Sulawesi Province/
Kunjungan kehormatan kepada Kepala Dinas Kehutanan, Propinsi Sulawesi Tengah

UNREDD Tim Mission discussion/

Tim misi UNREDD berdiskusi dengan Kelompok Kerja UNREDD

On the last day, Thursday, March 24th 2011, our schedule was very tight, starting at 8 am we paid a courtesy call to the Head of Natural Resource Conservation Agency (NRCA) and discussed about their activities and also conveyed the UNEP WCMC mission. Afterwards, we visited the Lore Lindu National Park (LLNP) to see a Maleo (Macrocephalon maleo) captivity. It took around one hour to reach the section office by car and to arrive at captivity center we rode a motorcycle for about 15 minutes and continued on foot for around 30 minutes. When we arrived in the captivity center, the LLNP officer explained their Maleo conservation activities together with local communities. It was opportunity to gain experience in finding Maleo birdfs eggs and releasing Maleo bird into nature. It was rainy when we returned to the LLNP section office, but this did not stopped us to plant trees which had been prepared by LLNP officers. We came back to the city around 2 pm. Before leaving, we visited the Forestry Planning Agency Regional XVI to discuss spatial data to formulate the toolkit. At last we departed for the airport at 4 pm and left for Jakarta.

«Courtesy call to the Head of NRCA/Kunjungan ke BKSDA

Dr. Barney Dicksonª

«Across the river to the captivity center/Menyeberangi sungai menuju lokasi

Explanation from LLNP officer/Penjelasan dari petugas TNLLª

«Maleo captivity board Papan penangkaran Burung Maleo

Maleo bird (Macrocephalon maleo)/Burung Maleo (

«Mr. Boyle releasing a Maleo bird/Tim Boyle sedang melepaskan Burung Maleo ke alam

Ms. Epple planting a tree/Cordula Epple sedang menanam pohonª

«Holding Maleo birdfs eggs gthe reporterh/Penulis sedang memegang telur Burung Maleo

UNREDD team with LLNP and CNRA officers
/Tim UNREDD bersama petugas TNLL dan BKSDAª



Survey Awal dalam rangka Penelitian di Propinsi Sulawesi Tengah, Indonesia
Ima Yudin Rayaningtyas

Saya adalah mahasiswa program Master di International Development and Cooperation (IDEC), Hiroshima University. Dibawah bimbingan Prof. Nobukazu Nakagoshi, saya bergabung di kelompok penelitian Wise Use Biomass (WUBR), Divisi Teknologi Pembangunan. Sehubungan dengan topik penelitian, saya mempelajari Program Pengurangan Emisi dari Kerusakan dan Degradasi Hutan di Indonesia.

Apakah yang dimaksud dengan REDD+ dan kenapa saya memilih topik ini?
Persatuan Bangsa-Bangsa untuk Konvensi Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change or UNFCCC) menetapkan suatu mekanisme internasional menggunakan pasar atau insentif keuangan untuk mengurangi emisi CO2 dari kerusakan dan degradasi hutan yang disebut REDD, sementara gplush disini juga mempertimbangkan konservasi, pengelolaan hutan secara lestari dan meningkatkan ketersediaan karbon. ?Mengingat saat ini perubahan iklim merupakan penyebab global dan menyumbang sekitar 15-20 persen emisi global gas rumah kaca yang berasal dari? kerusakan dan degradasi hutan, sementara kerusakan hutan, degradasi lahan, penggunaan/peruntukan lahan yang kurang tepat, dan konversi lahan memberikan kontribusi emisi terbesar, sehingga menjadikan REDD+ prioritas utama untuk Indonesia dan saya tertarik ingin mempelajari Program REDD+ di Indonesia.

Aktivitas Penelitian
Salah satu kegiatan penelitian saya adalah survey ke lokasi peneletian di Palu, Sulawesi Tengah pada 22-24 Maret 2011. Propinsi Sulawesi Tengah telah ditentukan sebagai lokasi proyek UNREDD Program Indonesia pada Oktober 2010. Pada saat saya berkonsultasi dan meminta ijin kepada Direktur Proyek Nasional dan Manager Proyek Nasional untuk melakukan penelitian di lokasi proyek mereka, mereka menyatakan bahwa tim dari United Nations Environment Program World Conservation Monitoring Centre (UNEP WCMC) didampingi Koordinator UNREDD Regional akan datang ke Indonesia dan mengunjungi Palu dan menperkenankan saya untuk bergabung dengan tim ini.
Tim ini terdiri dari beberapa institusi berikut: UNEP WCMC (Dr. Barney Dickson dan Cordula Epple), Koordinator UNREDD Regional Asia Pasifik (Tim Boyle), UNREDD Program Indonesia (Dr. Hermawan Indrabudi dan Dr. Machfud), Kementerian Kehutanan (Tri Meinartin, Hendra Permana, Puri, Rita), dan saya.
Kami berangkat pada hari Selasa, 22 Maret 2011 pada pukul 11.00 dengan pesawat dan tiba di Palu sekitar pukul 16.00. Fasilitator Regional UNREDD menjemput dan mengantarkan kami ke hotel. Setelah istirahat beberapa saat, mereka mengundang kami untuk makan malam dan selama makan malam kami mendiskusikan rencana kegiatan selama di Palu.

Pada Hari Rabu, 23 Maret 2011, kami menemui Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Propinsi Sulawesi Tengah untuk menyampaikan tujuan misi kedatangannya. Selanjutnya, kami menuju ruang pertemuan untuk berdiskusi dengan Kelompok Kerja UNREDD Propinsi Sulawesi Tengah yang dihadiri sekitar 15 orang yang berasal dari Kantor Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Tengah, akademisi, wakil masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat lokal. Setelah sesi perkenalan, Dr. Dickson mempresentasikan tujuan misi UNEP WCMC dan menyampaikan bahwa UNEP akan focus pada program komunikasi (keluaran 1.3) and menyusun sebuah alat bantu/guideline (keluaran 2.4). Ada beberapa pertanyaan terkait? alat bantu ini, kemudian Dr. Dickson dan Mr. Boyle menjelaskan bahwa alat bantu akan digunakan untuk memaksimalkan potensi keuntungan karbon dan menggabungkan dengan keuntungan bersama seperti konservasi keanekaragaman hayati dan pengentasan kemiskinan yang merupakan tujuan Pembangunan Milenium (MDG) sebagaimana disebutkan di dokumen UNREDD. Mereka juga menekankan bahwa untuk mencapai hal ini diperlukan partisipasi semua pihak dan peran UNEP WCMC hanya sebagai fasilitator. Sekitar pukul 14.00, kami mengunjungi Universitas Tadulako dan bertemu dengan Rektor dan para dosen sehubungan dengan informasi umum mengenai Universitas Tadulako dan dibahas pula mengenai kemungkinan-kemungkinan kerjasama di masa yang akan datang terutama dalam rangka menyukseskan proyek UNREDD Programme Indonesia.

Pada hari terakhir, Kamis, 24 Maret 2011, jadwal kami cukup padat, dimulai pukul 08.00 kami menemui Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan berdiskusi mengenai kegiatan mereka dan menyampaikan tujuan misi UNEP WCMC ke Palu. Setelah itu kami berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) untuk melihat penangkaran Burung Maleo (Macrocephalon maleo). Perjalanan menuju Kantor Seksi TNLL diperlukan sekitar 1 jam dan untuk ke lokasi penangkaran dibutuhkan sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor dan dilanjutkan jalan kaki sekitar 30 menit. Ketika tiba di lokasi penangkaran, petugas dari TNLL menjelaskan mengenai kegiatan konservasi Burung Maleo bersama masyarakat lokal. Kami mendapatkan kesempatan bagaimana caranya menemukan telur Burung Maleo dan melepaskan Burung Maleo yang sudah siap dilepas ke alam. Ketika kami kembali menuju kantor seksi saat itu hujan mengguyur, tapi tidak menghentikan kami untuk melakukan penanaman pohon yang bibitnya telah disiapkan oleh petugas TNLL. Kemudian kami kembali ke kota sekitar pukul 14.00. Sebelum kembali ke Jakarta, kami berkunjung ke Kantor Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XVI untuk mendiskusikan mengenai data spasial yang diperlukan untuk menyusun alat bantu. Akhirnya kami menuju bandara pukul 16.00 dan kembali ke Jakarta.